Suatu minggu, aku mengawas try out TOSSAKA di SMAku. Yaah, bukan sesuatu yang luar biasa sih. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Pagi itu saat aku berangkat, aku melihat seorang yang menurutku sudah berumur lebih dari 50 tahun di depan komplek perumahan di jalan yang menuju arah Hankam. Bapak itu memakai jaket oranye khas petugas kebersihan, mungkin jika ada yang suka melewati tempat itu tahu bapak itu. Seperti polisi “cepek” yang biasa ada di pertigaan jalan, beliau selalu meminta uang ke tiap mobil yang ingin menyebrang. Akan tetapi, apa yang membuat beliau berbeda adalah beliau selalu mendoakan setiap orang dan mobil yang lewat. Suaranya yang kencang dan khas saat ia mendoakan itu tak pernah aku lewatkan selama 6 tahun aku melewati jalan itu. Ingin rasanya aku bertanya pada beliau, tapi aku tau beliau sibuk. Siang hari aku datangi pun, beliau sudah tidak ada di jalan itu. Ingin rasanya aku bertanya apa yang membuatnya tetap mendoakan orang lain meskipun tidak ada yang memperhatikannya.