“Saya sering menyeleksi para pegawai baru. Dalam seleksi itu, ribuan orang melamar dan hanya kurang lebih 100 orang yang lolos administrasi. Setelah memenuhi administrasi, dilakukanlah tes kepribadian. Ternyata yang lolos hanya 10 orang. Dari 10 orang itu, yang lolos wawancara hanya 1 atau 2 orang dan diterima bekerja. Yang patut diperhatikan olehmu adalah pada tes kepribadian yang hanya meloloskan kira-kira sepersepuluh dari calon. Kenyataan yang terjadi bukanlah krisis lapangan kerja, tapi krisis kepribadian. Lapangan kerja sangat banyak, kantor kita sedang kurang orang. Bahkan jika 100 orang itu diterima semua, itu belum menutupi kekurangan karyawan di kantor”
Ayahku. 31 Januari 2012

Di hari ulang tahunku, aku mendapat sebuah wejangan yang sangat menarik. Ini salah satu hadiah terbaik yang ayahku berikan saat ulang tahunku sekaligus sebuah pengingat bagiku. Tanpa aku sadari memang hadiah-hadiah seperti uang, hp baru, dan benda nyata lainnya bukan lagi hadiah untukku yang sudah menginjak 19 tahun, tapi hadiah bagiku adalah suatu pendidikan yang bisa aku investasikan sendiri dan bisa aku manfaatkan untuk masa depanku.

Menyoroti permasalahan tenaga kerja, apa yang aku dapatkan adalah saat kau bersaing, bahkan dengan orang-orang kaya ataupun terkenal, bukanlah harta atau kenalan yang kau manfaatkan, tapi dirimu sendiri. Dirimu sendiri adalah senjata untuk bertahan di hidup yang keras ini. Mereka tidak lagi melihat berapa IPKmu, tetapi bagaimana sifatmu, apakah kamu tahan banting, apakah kamu cukup kritis. Ada benarnya mereka memilih pelamar berdasarkan lulusan karena secara umum perguruan tinggi memiliki corak sendiri dalam mendidik lulusan sehingga ketika lulus, alumni perguruan tinggi tersebut sudah memiliki kepribadian yang diinginkan oleh perusahaan. Lain halnya dengan permasalahan kaya atau miskin, orang-orang kaya cenderung lebih manja dan orang-orang miskin cenderung mudah menyerah. Generalisasi? Ya. Oleh karena itu perusahaan memilih berdasarkan kepribadian.

Jadi, kepribadian macam apa yang diinginkan perusahaan? Itu tergantung apa jenis pekerjaan yang ditawarkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan farmasi menginginkan seorang sarjana farmasi untuk bagian quality control. Disini ada kebutuhan akan orang-orang yang teliti dan bertanggung jawab. Kenapa? Karena untuk mengontrol kualitas suatu produk obat harus menggunakan alat-alat yang sangat mahal seperti HPLC dan GC. Selain itu perusahaan obat juga ingin keuntungan yang besar sehingga untuk analisis sediaan obat juga harus dilakukan sekaligus. Di tempat ini diperlukan suatu ketelitian yang sangat tinggi karena pada analisis dengan alat-alat ini, data yang didapat bisa saja bertumpukan dan penggunaan alatnya harus hati-hati. Kenapa harus tanggung jawab? Seperti yang saya katakan, alat-alat yang digunakan adalah alat mahal sehingga harus sering dirawat. Disinilah letak tanggung jawab seseorang terhadap alat itu. Jika kolom HPLC sudah mulai memburuk, dia harus segera mengatur pemesanan kolom baru. Mungkin hal-hal itu tidak terpikirkan di benak seorang farmasis karena semua itu bisa berbeda dengan apa yang dia pelajari selama di kuliah. Jadi, jika kau ingin bekerja di perusahaan, mungkin kau harus benar-benar memperhatikan apa yang kau inginkan di perusahaan itu.

Mungkin ini kesimpulan yang aku dapat di hari ulang tahunku ini. Sebenarnya aku sedikit menambahkan dengan perkataan dosen. Tetapi menurutku, ini adalah kesimpulan yang krusial untuk dipikirkan untuk masa depan