Pada suatu hari, tersebutlah seorang anak yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah desa yang kecil. Anak ini begitu beruntung dibandingkan dengan kedua orang tua dan teman-teman sebayanya karena di tempat itu, hanya dia yang bisa melanjutkan sekolah di sebuah sekolah unggulan di kota.
Pada suatu hari, anak ini datang pada ayahnya dan mengeluhkan berbagai hal,
“Ayah, aku lelah. Aku lihat teman-temanku begitu mudah mendapat yang mereka inginkan” Ujarnya

“Aku bosan melihat temanku melambaikan tangan dari mobilnya saat berangkat sekolah, padahal saat itu aku hanya mengendarai sepeda” keluhnya

“Aku bosan melihat temanku menghabiskan uang-uang mereka di kantin, padahal aku hanya membawa bekalku sendiri”

“Aku bosan melihat temanku yang selalu dijemput saat pulang, padahal aku selalu berjalan pulang sendirian”

Sang ayah hanya mengangguk-angguk mendengar keluhan anakknya. Dengan wajah yang sejuk, sang ayah berkata “ayo ikut aku nak..”

Dibawanyalah sang anak melalui sebuah hutan yang lebat dan gelap. Hutan itu terlihat begitu berbahaya dengan tebing yang terjal dan pohon-pohon yang tinggi dan semak yang menimbulkan kecurigaan akan hewan buas. Pada dasarnya pun terdapat batu-batu kecil yang tajam dan siap merobek kaki-kaki yang melewatinya

“Ayah, aku begitu takut. Aku tidak mau lagi memasuki hutan ini. Ayah, aku takut” kata sang anak.
“Ayolah nak, ikuti saja aku. Aku akan membimbingmu” ujar sang ayah

Akhirnya sang anak mengikuti lagi langkah-langkah sang ayah. Bermil mil ia lewati tanpa berkeluh kesah lagi walaupun ia merasa lelah karena sang ayah selalu mengatakan hal yang sama saat ia mengeluh.

Setelah beberapa lama, anak dan ayah itu menemukan sebuah danau yang begitu jernih. Danau yang tidak tersentuh oleh tangan-tangan manusia. Danau itu terlihat biru memantulkan cahaya dari langit. Ikan-ikan berlompatan di danau itu, tanda bahwa ada ketenangan di danau tersebut. Sang anak pun takjub, tanpa berkata-kata, ia memasukkan kakinya yang terluka ke dalam air tersebut. Seketika luka itu pun tak terasa sakit lagi karena dinginnya air danau itu.

“Ayah, danau ini indah sekali” katanya terkagum-kagum. Sang ayah hanya tersenyum. Ia lalu mengatakan pada anaknya,
“Nak, tahukah kamu kenapa aku membawamu ke tempat ini?” tanyanya. “Aku tahu jalanan yang kau lewati itu sangat sulit sehingga ia dapat langsung menyurutkan semangatmu, sudah banyak orang yang mencoba melewati hutan itu, tetapi menyerah dan kembali pulang dengan tangan hampa”.”Aku juga tahu bahwa kau tidak akan mampu melewati hutan itu sendirian”. Kata sang ayah. “Akan tetapi nak, perlu kau ketahui, inilah jawaban atas keluh kesahmu sebelumnya.”. “ Kau mungkin terlihat kesulitan dibandingkan teman-temanmu, akan tetapi jika kau terus berusaha menjalaninya, kau akan mendapat sesuatu yang indah setelah itu” Kata sang ayah. Sang anak tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Satu lagi nak, jika kau merasa kesulitan hingga hampir menyerah, mintalah bantuan kepada Tuhan, karna Ia akan menunjukkan jalan kepadamu”

Sahabat, mungkin tanda-tanda menyerah pada kehidupan sudah ada di matamu. Mungkin kau sudah jera pada jalan kehidupan yang selalu melukai hatimu sehingga engkau selalu merasa ingin kembali ke rumahmu. Lalu apa yang kau dapat dengan itu? Cobalah renungkan sahabatku. Hanya rasa lelah yang kau dapatkan saat itu, tanpa kepuasan sedikitpun.

Sahabat, teruslah berjalan di jalan ini. Walaupun ia menyurutkan semangatmu, ia akan menunjukkan sebuah hikmah kehidupan yang begitu menyegarkan. Sebuah keindahan yang akan menghapus rasa lelah dari batinmu. Sebuah keindahan yang akan menyembuhkan luka-luka yang kau dapat selama di perjalanan.

Sahabat, ingatlah saat kau merasa hampir menyerah, mintalah pertolongan pada Tuhan karena ia yang akan menunjukkan jalan

Salam Semangat!