Ibu…
Apa kabarmu disana?
Maaf aku tak pernah menelepon lagi
Aku tahu engkau selalu menelepon duluan
Walau hanya tuk bertanya “Apa kamu sudah makan?

Tanganmu semakin mengerut
Dan begitu pula wajahmu
Rambut putih selalu kulihat saat bersamamu
Tetapi kau tetap lebih kuat dibanding siapapun

Aku tumbuh tak seperti yang kau harap
Tapi tanpamu, aku tumbuh sendiri
Tetapi kau miliki kesabaran yang tidak pernah dimiliki
Kau selalu khawatir akan aku, dibanding dirimu sendiri

Jika kuingat masa lalu
Aku pernah meminta dibangunkan pukul 7
Dan saat itu pula engkau bangunkan ku
Tetapi aku malah menghardikmu
“Pergilah, aku mau tidur”
Kau tutupi wajahmu
Engkau pun menangis dan pergi dari kamar itu

Saat itu aku merasa
Aku ini makhluk paling bodoh di dunia

Walau karena itu
Engkau tak merubah raut wajahmu
Senyum masih menghiasi bibirmu
Tidakkah Tuhan beri kau sedikit rasa marah?

Ibu…
Maafkan aku
Aku tahu engkau menyayangiku
Engkau bahkan masukkan namaku dalam doamu

Aku tahu…
Tak ada yang lebih menyakitkan dari mengubur anak sendiri
Dan aku tak ingin itu terjadi
Walau aku hanya hidup sedetik lebih lama darimu
Aku ingin pastikan itu…

Ibu…
Aku bahagia jadi anakmu
Aku bahagia kau adalah ibuku
Dan semua itu takkan berubah

Jadilah ibuku selamanya…
Kau masih punya satu yang harus kau lakukan
Yaitu terimalah cinta anakmu ini.