Pada hari itu, aku belum menemukan jalan hidupku. Aku masih berada di pintu yang belum kuketahui arahnya. Sebelum hari itu aku sama saja seperti ini, terkatung-katung dalam bayangan kebingungan. Pada hari itu aku ingat seorang alumni Rohis 48 mengajak aku dan teman-teman lainnya untuk ikut Bedah Kampus UI 2009. Yah, memang aku berencana untuk ikut acara itu. Aku pun sudah membeli tiket yang dijual sebelumnya. Saat itu aku hanya ikut-ikutan dengan teman yang memang berniat untuk ikut Bedah Kampus. Tanpa kusadari, mungkin acara itu yang menjadi penentu arah hidupku.

Pagi itu, aku dan teman-teman berkumpul di depan Masjid Bahrul Ulum, masjid SMAN 48, yang notabene adalah basecamp kami sebagai anak Rohis 48. Setelah menunggu sekian lama, kami pun berangkat ke UI bersama kak Jodi, salah satu alumni 48 yang kuliah di UI. Waktu itu aku ingat aku sempat nyasar dan terpisah dari teman-teman yang lain bersama teman boncengan. Saat di Jalan Raya Bogor, bukannya belok menuju Depok malah lurus terus ke (katanya) Cibubur. Akhirnya Hafiez, teman boncenganku tersebut banting setir dan kembali ke jalan yang benar. Setelah menemukan jalan Akses UI, akhirnya kami meneruskan perjalanan ke UI.

Setelah memarkirkan motor di depan balairung, aku melihat sekeliling. “Ternyata banyak juga yang ikut”, begitu pikirku. Aku dan teman-teman pun dibawa kak Jodi ke depan Balairung, walau aku tidak yakin mana yang depan dan mana belakang. Terlihat banyak orang yang mengantri disana. Akupun ikut mengantri. Setelah agak lama menunggu sampai bisa foto-foto narsis, aku dan teman-teman pun masuk ke dalam Balairung. Terlihat di dalamnya kursi-kursi yang sudah tersusun rapi. Kami dibimbing untuk duduk di kursi terdepan yang masih kosong. Sembari menunggu acara, aku membaca majalah yang diberikan di depan saat mengantri. Majalah itu seperti pernah kulihat di sekolah atau memang hanya perasaanku saja.

“Ah biarlah” pikirku.

Aku kembali melihat sekeliling. Kursi-kursi disebelahku mulai terisi oleh orang-orang asing. Orang-orang yang menjadi sainganku saat ujian masuk nanti. Kulihat panggung di depan, dekorasinya mirip sekali dengan sebuah kapal bajak laut, sesuai sekali dengan tema acara waktu itu “Find your own treasure”. Panggung itu masih kosong dari orang-orang, tapi meja dan kursi sudah tersusun. Akhirnya, aku kembali menunggu acara mulai dengan ngobrol bersama teman-temanku.

“Assalamualaikum wr. Wb” sahut seseorang di depan

Akhirnya mulai juga. Tidak kusadari balairung sudah penuh hingga harus dipindah ke atas. Yaah, memang kalau mengobrol dengan teman Rohis itu selalu ngelantur kesana kemari sampai tidak tahu waktu. MC sudah mulai berbicara kesana kemari dan pikiranku masih menuju stan-stan yang masih kosong. Mungkin itu stan-stan untuk promosi jurusan, begitu pikirku.
Di depan sana sudah duduk para pembicara yang tak kuperhatikan apa yang mereka katakan. Aku hanya berbicara dengan teman-teman Rohis (iseng banget ya :p) dan sesekali memerhatikan stan stan jurusan yang sudah mulai terisi dengan orang-orang berjaket kuning.

Lama kami berbicara tanpa memerhatikan orang di depan. Sampai pada akhirnya ada anak seangkatan kami meninggalkan tempat duduknya dan mendatangi stan sastra. Aku pun berkata pada teman-teman “Eh, ikutan yo”. “Ah enggak ah, nunggu rame aja dulu” begitu kata mereka. Baru kami terdiam, baru saat itu kami memperhatikan pembicara di depan. Kata-kata yang kuingat dari pembicara yang tak kuingat siapa nama dan wajahnya adalah bahwa kita jangan takut untuk masuk UI karena UI takkan menDO mahasiswa karena masalah dana. Apalagi katanya beasiswa yang ada di UI malah lebih banyak daripada mahasiswanya. Aku semakin bersemangat untuk masuk UI.

Ternyata bangku-bangku disamping kami sudah mulai kosong. Mereka mulai berkeliling stan. Aku pun mengajak teman-teman untuk mulai berkeliling. Mereka pun menuruti ajakanku.
Aku mulai dari bagian stan teknik di sisi kanan panggung. Aku melihat teknik metalurgi, salah satu jurusan yang kuminati. Aku sudah mengerti tentang jurusan itu karena sudah ada yang pernah roadshow ke kelasku sebelum ini. Jadi aku hanya mengambil brosur yang tersedia di sana. Aku melihat teknik elektro, disana ada semacam tangan robot yang memegang rubik, mainan favorit saat itu. Aku tak tertarik pada jurusan itu, jadi hanya kulewati saja. Agak di pojok belakang, ada fakultas kedokteran. Aku berhenti sejenak. Aku lihat laki-laki berjakun (jaket kuning) yang memakai kacamata sedang menerangkan apa saja yang dipelajari disana. Aku mendengar akan ada pelajaran anatomi dan sebagainya, aku tak mengerti itu.

Wah, aku terpisah dari teman-teman. Biarlah, aku terus berjalan sembari mengumpulkan brosur ke arah belakang, ada deretan jurusan MIPA. Entah apa yang ada di pikiranku, aku menuju stan Farmasi. Disana aku bertanya banyak, aku sendiri sampai lupa apa yang kutanyakan. Bahkan aku sempat berkenalan dengan senior yang aku tanyai. Aku pun bertemu dengan alumni 48 yang kuliah juga di Farmasi, yaitu kak Setiawan. Lama-kelamaan, aku jadi tertarik masuk Farmasi. Tapi kuurungkan niat itu dahulu karena aku belum menjelajahi semua jurusan.

“Kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak?” Begitu pikirku.

Terlintas di benakku pada jurusan HI di FISIP. Aku sangat tertarik karena aku sangat yakin pada kemampuan bahasa Inggrisku. Aku pun kembali menelusuri jurusan itu. Tetapi jujur, aku sangat tidak tertarik karena penjaga stannya sangat membosankan. Dan aku kembali menelusuri tiap jurusan.

Selesai acara, teman-teman keluar dari balairung. Waktu itu belum masuk waktu Ashar. Aku dan teman-teman sempat berfoto narsis di samping balairung. Aku melihat danau UI, waktu itu indah sekali dan aku berharap bisa masuk UI sehingga bisa menikmati pemandangan ini. Waktu itu memang perpustakaan pusat dan gedung sekolah seni belum dibangun dan belum terlihat sehingga masih terlihat indah sekali.

Waktu ashar pun tiba, aku diajak oleh teman-teman untuk sholat ashar di MUI, masjid yang jauh lebih besar dibanding masjid sekolah. Aku semakin bersemangat untuk masuk UI. Disana, kami kembali bertemu kak Jodi. Kali ini dia membawa dua orang temannya, aku lupa nama mereka, dari Kriminologi. Kami pun berbincang sebentar. Tak diduga ternyata temannya ada yang pernah menjadi ketua Rohis di SMA daerah. Kemudian kak Jodi pun menanyakan apa yang kami dapat seharian ini. Walau aku sendiri masih bingung, akhirnya kuputuskan aku akan memilih jurusan HI sebagai jurusanku.

Kak Jodi berkata. “Kebetulan, saya bawa temen dari HI juga”

Kemudian dia pergi untuk beberapa saat dan membawa seseorang yang gemuk dan berkacamata.
“Nih, kalo ada yang belum jelas, Tanya saja sama dia” begitu katanya
Tentu saja kami mengawali dengan perkenalan, tapi aku lupa namanya siapa. Aku pun lalu banyak bertanya pada dia tentang prospek jurusan, persaingan, apa saja yang dipelajari dan sebagainya. Pada akhirnya dia bertanya.
“Oh iya, kamu di SMA jurusan apa?”
“IPA kak” kujawab.
“Waaah, sayang sekali. Kalau begitu sebaiknya kamu pilih jurusan MIPA saja agar ilmu yang kamu dapat selama ini nggak sia-sia”
Dalam hati aku membenarkan kata-katanya. Hingga aku pulang ke rumah pun aku masih memikirkan kata-kata itu. Akhirnya terbersit di pikirku “FARMASI!”. Akhirnya itulah tujuanku. Kutulis “FARMASI UI! BISA!” besar-besar di papan tulis di kamarku agar hatiku semakin kuat pada tujuan itu.

Hari kedua bedah kampus tidak ada yang menarik, semua sama saja.Yang beda hanya teman yang menemaniku saat itu. Saat itu aku hanya mengambil brosur tiap jurusan untuk diberikan pada seorang teman.
Waktu berjalan cepat, tak terasa sudah semester 2 dan dekat ujian mandiri. Aku sudah mulai aktif di bimbel dan forum belajar di sekolah. Untuk pertama, aku mencoba masuk ITB dan UI. Hanya dua tempat itu yang diizinkan oleh orang tuaku. Mereka memang hanya menawarkan di dua tempat, yaitu Jakarta dan Bandung.

Ujian pertama, SIMAK UI. Aku ingat ujian itu dilaksanakan bulan April, sebelum ujian nasional. Ujian hanya dilaksanakan satu hari. Aku mengambil tempat di Depok, berbeda dengan teman-temanku yang rata-rata mengambil tempat di Jakarta. Pada hari itu, aku sempat melaksanakan sholat dhuha dan berdoa agar diberi yang terbaik oleh Allah. Dan ujian pun dimulai, aku merasa soal-soal ini sulit sekali. Soal yang kudapat sangat berbeda dengan apa yang kupelajari selama ini di bimbel. Saat selesai ujian, aku hanya bisa berdoa semoga Allah bisa memberi yang terbaik.

Keeseokan harinya, bimbelku sudah mengeluarkan kunci jawaban SIMAK. Aku mencoba mencocokkan jawaban. Disitu harapanku putus untuk masuk Farmasi karena nilai yang kudapat tak begitu memuaskan. Kira-kira hanya cukup untuk masuk Teknik Metalurgi dan jurusan Kimia MIPA, tapi aku tak mau masuk Teknik! Dan aku tak mau menyerahkan nasibku pada MIPA.
Akhirnya kuserahkan harapan berikutnya pada PMBP ITB. Saat itu aku memilih Sekolah Farmasi, Teknik dan MIPA. Ujian dilaksanakan pasca UAN. Waktu yang tepat sekali karena otakku masih sangat fresh untuk menjawab pertanyaan. Tapi hari pertama adalah tes yang tak mengenakkan, tes psikotes. Saat itu, mengerjakan psikotes bukanlah pekerjaan yang tepat pasca UAN. Walau sedikit optimis pada hasilnya, aku tetap saja punya firasat buruk. Apalagi mendengar kabar bahwa ITB sangat sensitive dengan tes psikotes ini. Hari kedua tes kemampuan akademis. Pelajaran yang diujikan adalah bahasa inggris, matematika dan IPA terpadu. Aku sangat optimis di bahasa inggris dan IPA terpadu. Dan akupun pulang dengan rasa optimis.
Suatu hari, kira-kira dua minggu setelah PMBP ITB, aku mendapat telepon dari temanku.

“Eh, hasil ujian ITB udah keluar tuh”

Buru-buru aku naik sepeda ke warnet. Kuketikkan web penerimaan ITB, kumasukkan nomor pendaftaran dan sebagainya. Kulihat “Anda belum kami terima sebagai mahasiswa ITB”. Hatiku hancur, apa kata orang tuaku kalau masuk ITB bahkan untuk MIPAnya saja tidak bisa? Benar saja, di rumah aku hampir dimarah-marahi oleh orang tuaku. Dan malam itu aku tertidur dengan perasaan sedih. Sedih tidak bisa membanggakan orang tuaku.

Paginya, aku tak tahu kenapa, tapi ada sedikit harapan di UI. Aku berkata dalam hati “Biarlah kalau aku harus masuk Kimia MIPA, aku tak ingin mengecewakan lebih dari itu”
Kemudian, ada harapan lagi. UM UNPAD sudah dibuka. Lokasi UNPAD ada di Jatinangor, jadi aku masih diperbolehkan kuliah disana. Apalagi kakekku tinggal di sana. Aku pun melakukan pendaftaran dan mengikuti ujian dengan senang hati. Tapi, aku baru sadar bahwa ada satu hal yang lupa kulakukan. Aku lupa mengirimkan suatu berkas ke alamat UNPAD. Matilah aku, deadlinenya sudah lama lewat. Aku mengikuti ujian tanpa harapan walau aku lihat soalnya sangat mudah. Tapi seorang teman menyarankan agar mengirim berkas setelah ujian. Aku pun mencoba cara itu. Orang tuaku tidak tahu apa-apa saat itu

Setelah kira-kira satu minggu, aku diberitahu bahwa pengumuman sudah keluar. Aku mencoba membuka pengumuman. “Tidak lulus” satu lagi yang kudapatkan. Orang tuaku kembali kecewa. Aku pun menyalahkan diriku sendiri atas semua ini. Disaat teman-teman yang lain sudah mendapatkan tempat kuliah di UNDIP, UGM dan universitas bergengsi lainnya, aku malah belum mendapat satupun.

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa pengumuman SIMAK esok hari. Status FB banjir dengan berita-berita SIMAK. Aku yakin mereka akan bergadang menunggu pengumuman. Aku sih tidur saja karena aku tahu pengumuman baru dibuka pukul 8 pagi.
Keesokan harinya, aku pergi ke NF untuk bimbel. Saat itu sudah libur sekolah dan bimbel sudah mulai intensif SNMPTN. Aku melihat koran hari itu, aku jadi penasaran. Pengajar di NF hanya berkata “kamu belum liat ya? Sini liat”. Aku melihat halaman yang berisi nomer-nomer peserta. Aku cari di bagian Farmasi regular, tidak ada nomerku. Aku melihat di Metalurgi, tidak ada juga??? Aku kembali berdoa, semoga di Kimia. Aku tak ingin mengecewakan orang tuaku lagi. Aku lihat di Kimia, ada nomer yang sama. Aku tidak percaya, kulihat lagi, ternyata benar-benar sama. Alhamdulillah akhirnya aku dapat di UI. Aku langsung menelpon orang tuaku yang saat itu mengantar adik ke sekolah. Mereka langsung datang ke tempat bimbelku. Aku ingat mereka mencium keningku, aku tahu mereka senang aku mendapatkannya. Alhamdulillah. Hari itu aku sangat bersuka cita. Apalagi mendengar teman-teman yang juga mendapat kuliah di UI.

Tapi belum saatnya aku beristirahat. Masih ada satu kesempatan lagi, UMB PTN. Hanya tinggal UMB yang menjadi gerbang ke Farmasi karena aku tak mungkin ikut SNMPTN karena waktu yang bentrok dengan daftar ulang untuk SIMAK. Aku hampir menyerah pada kenyataan kalau aku memang harus di Kimia UI, sampai-sampai aku sudah mencari teman yang kelak akan bersama denganku. Sekali lagi aku diingatkan oleh tulisan besar di papan tulis di kamarku.
Sekali lagi aku berusaha, aku mendaftar dengan cermat. Aku mengisi info pendaftaran yang dibutuhkan. Aku ikuti ujiannya di Jakarta Utara. Orang tuaku sempat berkata “Ikuti ujiannya dengan santai, kamu kan sudah dapat satu kesempatan. Kalau tujuanmu benar-benar Farmasi dan niatmu benar, kamu pasti dapat.”

Aku pun mengerjakan itu dengan tenang tapi pasti dan dengan kemampuan yang sebenarnya. Selesai dari ujian, aku sholat dan berdoa di masjid sambil menunggu dijemput oleh orang tua.
Hari hari berikutnya kulewati dengan santai. Tidak ada lagi bimbel atau sekolah. Kerjaanku hanya bermain fesbuk, bermain game, dan lain lain. Emang sih sekarang aku cuma jadi pengangguran karena UN sudah lulus. Aku mau main ke sekolah, aku pasti diusir sama salah seorang guru (begitu kata beliau :p)

Suatu hari, kira-kira 3 hari sebelum daftar ulang SIMAK, aku ditanyai oleh temanku, Annisa, “kok ga nyiapin berkas daftar ulang kayak surat tanda lulus sementara?” . Aku hanya menjawab “Ah, nggak ah, males”. Dalam hati aku yakin bahwa aku akan lulus menuju Farmasi UI. Pengumumannya adalah sehari sebelum daftar ulang SIMAK. Aku bertaruh pada hidupku, jika aku tidak dapat Farmasi UI, maka aku akan mengulang tahun depan karena aku tidak mendaftar SNMPTN. Tapi jika aku dapat, maka itu sebuah kenikmatan lain dari Allah. Dan aku tidak ingin berputus asa dari kenikmatan ini🙂

Dan saat yang paling menentukan itu tiba, aku membuka web UI untuk melihat pengumuman. Dan ini yang kudapat.
Nama:
Muh. Miftahul Huda
Prodi:
Farmasi
Jalur masuk:
UMB

ALHAMDULILLAH. Sebuah anugerah di pagi hari. Saat ini aku resmi menjadi camaba Farmasi UI. Saat itu, mungkin tak pernah aku tersenyum secerah ini sebelumnya. Aku telah membuat bangga orang tuaku, aku telah menunjukkan aku bisa meraih mimpiku. Dan yang paling penting, aku berhasil membuktikan bahwa hasrat dan keinginan yang diikuti tekad dan kerja keras akan membawaku pada keberhasilan

Pesan dariku: Kegagalan yang kau dapat bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita. Teruslah kejar bulan walau kau sudah mendapat bintang dan yakinlah Allah selalu bersamamu🙂